Bookmark and Share

Friday, December 18, 2009

Isi Doa Anak-anak





Jika anak-anak berdoa, apa yang mereka sampaikan kepada Tuhan?


Dear God, are you really invisible ??



Show off my new shoes.



Put another holiday.



Very hard to love everybody, how could?



I wish that's a pupy.



They kissed at chruch, that's ok?



Give me genie lamp God.

Tuesday, December 15, 2009

Menyayangi Orang Tua Kita





Sebagai orang dewasa kita semua mungkin disibukan dengan berbagai kesibukan harian kita. Mungkin dari kita semua ada yang masih sibuk dengan masa remaja kalian, ada juga yang lagi sibuk dengan kuliah, dan ada juga yang sibuk dengan pekerjaan kita masing-masing. Rutinitas kita kadang membuat kita melupakan orang-orang yang ada didekat kita. Orang yang mungkin sudah mengorbankan banyak waktu untuk membesarkan kita. Di masa tua mereka, dengan kulit yang sudah mengerut dan tatapan mata mereka yang telah lelah, yang di inginkan mereka (orang tua) hanya lah melihat kita bahagia dan itu sudah puas di dalam hati mereka, tetapi jauh dari dalam hati mereka sebenarnya mereka ingin menuntut bukan sekedar hal itu saja. Mereka juga butuh perhatian dari kita, kasih sayang yang belum sempat kita beri karena kesibukan kita. Bahkan kita lebih mementingkan perasaan pasangan kita daripada orangtua kita. Pasangan yang baru kita kenal 6 bulan atau sudah berpacaran selama beberapa tahun. Kita berpikir mati-matian untuk membuat surprise di hari ulang tahun pasangan kita atau berusaha mencari hadiah yang disukai oleh pasangan kita. Cobalah berpikir kembali apa yang kita lakukan ketika orangtua kita ulang tahun? Mungkin beberapa dari kita melakukan sesuatu yang benar-benar menyenangkan hati orang tua kita, tapi kebanyakan dari kita hanya melakukan hal biasa di hari ulang tahun orang tua kita. Mungkin hanya sebuah ucapan ulang tahun dan sebuah kue ulang tahun di meja makan. Hal tersebut sebenarnya juga baik dilakukan tetapi makna yang didapat dari semua ini hanya lah sebuah rutinitas tahunan tanpa adanya suatu makna yang lebih.
Dibawah ini ada sebuah cerita :
Seorang pria yang cukup sukses disebuah kota besar yang cukup sibuk dengan segala aktivitas pekerjaan nya. Pria tersebut merupakan anak tunggal yang merantau ke kota besar tersebut, sedangkan ibu nya hanya tinggal sendirian karena ayah nya sudah meninggal di sebuah kota yang tidak terlalu jauh dari tempat tinggal anak nya. Selama bertahun-tahun pria tersebut hanya menyempatkan diri pulang kerumah ibu nya beberapa kali itu juga karena ada keperluan yang harus dilakukan di kota tempat ibunya tinggal. Ibu dari pria tersebut setiaphari hanya menghabiskan waktunya didalam rumah, sekali-sekali ibunya pergi ke taman untuk berjalan-jalan seorang diri. Bahkan pria tersebut sama sekali sangat jarang untuk telepon kepada ibunya untuk menanyakan kabar atau sekedar bercerita karena kesibukannya setiap hari yang selalu menghabiskan dirinya di depan komputer atau di kantor tempat dia bekerja. Sebagai anak, pria tersebut sangat bentanggung jawab untuk menghidupi ibunya. Biaya hidup ibunya memang ditanggun oleh pria tersebut, tetapi sebenarnya yang diperlukan oleh ibunya tidaklah hanya sekedar materi saja tetapi perhatian dari anaknya yang satu-satunya dia miliki. Setiap tahun ulang tahun ibunya dilewati sendiri dirumah tanpa ada satu pun yang merayakannya. Kalau adapun hanya bucket bunga yang dikirimi oleh anaknya melalui petugas penjual bunga yang mengantarkan kerumah. Sampai suatu kali disaat ulang tahun ibunya, pria tersebut kembali ke tempat penjualan bunga dan memesan bunga tersebut untuk dikirim ke alamat rumah ibunya. Ketika pria tersebut sedang didalam mobil, dia melihat ada seorang gadis kecil yang berdiri sedang nangis. Pria tersebut tersentuh hatinya untuk menanyakan apa yang terjadi, gadis kecil tersebut hanya berkata “Kak, saya ingin membeli bunga untuk ibu saya yang sedang ulang tahun,” pria tersebut lalu mengantarkan kan gadis kecil tersebut untuk membeli bunga. Lalu gadis tersebut mengundangnya untuk menemani dia memberikan bunga tersebut kepada ibu si gadis kecil. Gadis kecil tersebut menarik tanggan pria itu dan membuka pagar dan mengendap-ngendap dengan tangan yang membawa bunga di sembunyikan di belakang badannya dan mengucapkan “Ibu, liat saya bawa apa? Ini ada bunga kesukaan ibu.. Selamat Ulang Tahun Ibu, Semoga Ibu selalu bahagia. Semoga Tuhan selalu menjaga Ibu disurga. Selamat Ulang Tahun ya..” Ucap gadis kecil itu di depan Nisan Ibunya yang sudah meninggal. Dengan muka polos dan senyum manis nya gadis tersebut mengucapkan terimakasih kepada pria itu. Dan pria itu tersadar bahwa Ibunya masih di beri kesempatan untuk hidup tetapi disaat ulang tahun nya dia tidak hadir dalam untuk ibunya.. Dengan air mata nya yang sudah membanjiri matanya pria tersebut langsung lari dan menyetir mobil nya ke arah rumah ibunya. Dan meminta maaf atas ulang tahun yang dilewati oleh ibunya selama bertahun-tahun hanya sendiri.

Berikut cerita diatas, semoga dapat memberikan manfaat untuk semuanya.

Lakukanlah segala sesuatu sebelum semua terlambat.

Monday, December 14, 2009

ANDAIKAN DIA KENAL YESUS



Matius 11 : 28-30 Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan."

Ada satu peristiwa yang cukup membuat saya terenyuh mengenai seorang wanita, yang tidak pernah saya kenal. Bertahun-tahun yang lalu, ada seorang ibu yang sudah ditinggal mati oleh suaminya, sehingga hanya tinggal ibu ini dan satu anak perempuannya yang masih SD kelas 4. Mereka bukan berasal dari keluarga yang mampu, dan juga sejak kepergian suaminya itu, keluarga besarnya tidak ada yang mau menolong mereka. Karena situasi ini, sang ibu harus berjuang sendiri mencari nafkah demi kelangsungan hidupnya dan anak satu-satunya. Bahkan akhirnya mereka sengaja pindah ke kota Bandung ini untuk menghindari keluarga besar itu. Jadilah mereka sebatang kara di kota baru, jauh dari orang-orang yang mereka kenal.

Cukup sulit bagi ibu ini untuk mendapatkan pekerjaan. Apalagi ibu ini meminta supaya setiap jam pulang sekolah anaknya, ia ingin diijinkan keluar agar dapat menjemput anaknya itu. Jadi, tidak setiap perusahaan yang bisa melakukannya. Dan jika permintaannya ini tidak dipenuhi, ibu ini lebih memilih untuk tidak menerima pekerjaan itu. Cukup lama juga waktu yang ia butuhkan sampai akhirnya harapannya ini terkabul. Akhirnya ada satu pabrik yang menerimanya sekaligu memenuhi permintaannya itu, tapi tentu saja gaji yang dia terima jadi lebih kecil sebagai konsekuensinya.

Tapi karena rasa sayang yang tidak terkira, ibu ini rela bekerja siang malam demi anak semata wayang itu. Pagi-pagi, ibu ini sudah bangun dan membereskan rumah kontrakan mereka, menyiapkan makan dan membantu anaknya membereskan keperluan sekolahnya, lalu berangkat mengantar anaknya itu ke sekolah. Kadang jalan kaki, kadang naik becak, kadang naik angkot, tergantung keadaan keuangan mereka.

Setelah anaknya sampai di sekolah, ia pun berangkat kerja ke satu pabrik, yang sungguh karena kemurahan Tuhan, mengijinkan dia pada jam pulang sekolah anaknya, ia bisa pamit dan menjemput anaknya dulu, membawanya ke rumah, menyiapkan makan, dan barulah ia kembali ke pabrik dan kembali bekerja. Pulang sedikit larut, bergegas ke rumah dan membereskan rumah, dan menemani anaknya belajar, barulah ia bisa sedikit beristirahat.

Itulah yang ia kerjakan setiap hari, hampir tidak ada waktu untuk dirinya sendiri, kecuali tidur beberapa jam sehari. Di dalam hati dan pikirannya, hanya tertuju pada anak perempuannya itu. Tidak ada yang dapat menggantikannya. Dengan tidak mengeluh ia melakukan itu, hari ke hari, minggu ke minggu, bulan ke bulan dan tahun ke tahun. Tujuan hidupnya Cuma satu, ia ingin anaknya mengalami hidup yang lebih baik dari dirinya. Seluruh hidupnya ia berikan untuk anaknya itu.

Pagi itu, seperti biasa ia pergi ke sekolah mengantar anaknya, dan setelah itu ia berangkat kerja. Dan ketika jam pulang sekolah, ia keluar dari lingkungan pabrik dan pergi menjemput anaknya. Karena hari sangat terik, iapun memilih untuk naik becak bersama anaknya itu. Dan seperti biasanya juga mereka bercengkerama dan mengobrol tentang pengalaman anaknya di sekolah.

Tiba-tiba, ada sebuah mobil berlari dengan kencang ke arah mereka. Sang ibu berteriak mengingatkan tukang becaknya, namun tidak bisa dihindari lagi, akhirnya mobil itu menabrak becak mereka dengan sangat kencang. Becakpun terpental jauh, tak lama kemudian berhenti dan terguling, sementara para penumpangnya sudah terlempar lebih dulu. Sang ibu berteriak menyerukan anaknya yang terlempar entah ke mana. “ANAKKU...!!!!” Dunia seperti mendadak berhenti. Hidupnya seperti sudah terhilang, terbawa ke alam lain. Yang ada dalam pikirannya adalah bagaimana dengan anaknya. Kemudian gelap menyelimuti kepalanya.

“Anakku...anakku..anakku..mana anakku..???” suaranya begitu lirih terdengar, dan kalimat itulah yang pertama kali muncul di mulutnya ketika ia tersadar dari pingsan yang cukup lama. Ia sudah ada di rumah sakit, entah siapa yang membawanya ke sana. Tapi yang pasti, seluruh tubunya terasa sakit karena luka-luka yang dalam. Matanya sulit memandang dengan jelas. Tapi pikirannya membunyikan alarm yang panjang...anaknya dimana? Bagaimana keadaannya?

Seorang perawat datang menjenguk keadaannya, lalu menolong ia untuk minum. Tapi ia tak butuh minum. Ia perlu tahu keberadaan anaknya. Di mana ia? Tapi anehnya tak ada yang bisa memberinya jawaban. Ternyata, entah mengapa, ia juga tak mengerti, anaknya dibawa ke rumah sakit yang lain, karena yang membawa mereka berbeda kendaraan, jadinya mereka ditaruh di dua rumah sakit yang berbeda. Ia menjerit, meronta dan memohon agar dibawa pada anaknya.

Akhirnya pihak rumah sakit mengijinkan ia pergi, bahkan menolongnya meminjamkan ambulans. Sesampai di rumah sakit di mana anaknya dirawat, anehnya mereka malah terdiam dan sepertinya tidak tahu keadaan putrinya itu. Mereka memandang dia dengan pandangan aneh, sehingga akhirnya ia tahu kalau ada yang tidak beres. Perasaannya mengatakan demikian.

Air matanya meleleh, mengalir turun tanpa dapat dibendung. Ia tahu, ia mengerti. Mereka tidak perlu mengkonfirmasikan lagi, ia sudah mengerti. Anaknya, yang menjadi satu-satunya alasan mengapa ia masih bertahan hidup sampai hari ini, kini sudah tiada. Putri satu-satunya itu sudah pergi, meninggalkan dia seorang diri. Ia pun berteriak dalam hatinya,”Tuhan...Cuma tinggal dia satu-satunya milikku yang berharga, masakan Tuhan tega mengambilnya juga dari padaku? Cuma dia satu-satunya yang membuatku bertahan untuk hidup...”

Ketika teman-teman anaknya melayat di rumah duka, sang ibu hanya terdiam merenung memandangi peti jenazah anaknya itu. Hatinya tersayat perih...tidak ada lagi yang perlu kubela sekarang. Tidak perlu lagi aku hidup dan berjuang keras. Dia sudah tiada..... semua orang yang datang hari itu memperhatikan bahwa sudah tak ada lagi air mata mengalir, dukanya sudah terlalu dalam di hatinya yang membeku.

.....

Kisah ini adalah sebuah kisah nyata yang pernah terjadi bertahun-tahun yang lampau. Entah kenapa saya teringat lagi dan jadi tergerak untuk menuliskannya. Suatu kisah kebaikan dan kepahlawanan seorang wanita. Bagi keluarganya, bagi orang yang dikasihinya.

Saya tidak pernah tahu bagaimana selanjutnya kisah wanita ini. Ada yang sempat khawatir, takut kalau-kalau akhirnya ia bunuh diri, tapi ada juga yang mengatakan kalau dia masih ada dan tetap bekerja. Namun tidak ada yang tahu pasti. Satu hal saya belajar dari ibu ini, bagaimana ia punya kasih yang tidak bersyarat bagi anaknya.

Kasih untuk anaknya itu memotivasi dia untuk bertahan hidup dan terus berjuang di tengah kesulitan hidup yang mereka alami. Tapi akan jauh lebih baik, kalau seandainya ia tahu, bahwa di balik semuanya itu, ada Yesus yang mengasihi mereka dan siap mengulurkan tangan bagi orang yang berseru dengan sungguh-sungguh dalam namaNya. Seandainya saja mereka tahu itu.

Sobat, kalau hari ini anda bertemu dengan ibu ini, tolong sampaikan padanya kalau ada pribadi yang sangat mengasihinya, dan tidak pernah meninggalkannya. Namanya Yesus. Ia adalah segalanya bagi setiap orang yang mau datang kepadaNya. Ia sanggup memikul beban-bebannya. Ia mau menanggung beban itu bersamanya.

Tolong sampaikan hal itu juga pada tiap orang yang sedang dalam beban yang berat saat ini. Yesus menantikan mereka semua untuk menyerahkan hidup mereka ke dalam tanganNya. Seandainya saja mereka kenal Yesus...hidup mereka takkan pernah sama lagi. Amin

By : Ps. Sariwati Goenawan – IFGF GISI Bandung



Terimakasih buat Ps.Sariwati Gownawan untuk ijin posting Artikel Rohani Ini

Klik Disini Untuk Artikel Lain

Saturday, December 12, 2009

Seperti yang Kumiliki


"Apa yang kamu simpan untuk dirimu sendiri akan lenyap, apa yang kamu berikan pada orang lain akan kamu miliki selamanya"


Hari Natal tinggal dua minggu lagi, tetapi aku harus berada di rumah sakit untuk memulihkan kesehatanku setelah menjalani operasi. Natal itu merupakan Natal pertama kalinya bagi keluargaku di Minnesota, dan aku ingin menjadikannya penuh kenangan, tetapi tidak dengan cara seperti ini.

Selama berminggu-minggu aku tidak menghiraukan rasa sakit di bagian tubuhku, tetapi ketika rasa sakit itu semakin parah, aku datang ke dokter. “Batu empedu”, kata dokter, sambil memandang sinar X. “Cukup untuk membuat sebuah kalung. Anda perlu segera dioperasi.”
Meskipun aku protes bahwa saat itu merupakan waktu yang sama sekali tidak menyenangkan untuk berada di rumah sakit, rasa sakit yang menggerogoti diriku meyakinkan aku untuk menjalani operasi, sesuai dengan anjuran dokter.
Suamiku, Buster, meyakinkan aku bahwa dia bisa menangani semuanya dirumah, dan aku menelepon beberapa sabahat untuk minta bantuan agar anak-anakku bisa menumoang mereka. Banyak hal lainnya, kue Natal, belanja, dan dengan dekorasi harus menanti.
Aku berusaha keras untuk membuka kedua mataku setelah tidur selama dua hari di rumah sakit setelah menjalani operasi. Ketika aku menjadi lebih sadar, aku melihat sekelilingku yang tampak seperti sebuah toko bunga Natal. Bunga poinsetia merah dan banyak buket lainnya memenuhi kusen jendela. Setumpuk kartu menunggu untuk dibuka. Di sebuah meha di sisi tempat tidurku berdiri sebuah pohon kecil yang diberi ornamen yang telah dibuat oleh anak-anakku. Rak di atas bak cuci penuh dengan mawar merah dari kedua orangtuaku di indiana dan sebuah kayu Natal dengan banyak lilin dari para tetangga. Aku merasa begitu gembira oleh semua cinta dan perhatian yang sangat besar itu.
Mungkin berada di rumah sakit pada hari-hari Natal bukanlah suatu hal yang sama sekali buruk, pikirku. Suamiku berkata bahwa teman-teman telah membawa makanan ke keluarga kami dan menawarkan untuk mengurus kempat anak kami.
Di luar jendela, salju yang tebal mengubah kota kecil kami menjadi sebuah negeri ajaib musim dingin. Anak-anak pasti menyukai suasana seperti ini, demikian pikirku ketika aku membayangkan mereka mengenakan pakaian tebal penahan salju untuk membuat manusia salju di halaman belakang, atau bermain ski dilapangan es terbuka di sekolah Garfield.
Apakah mereka juga akan melibatkan Adam, anak kami yang cacat? Aku sangsi. Pada usia lima tahun, dia baru bisa berjalan sendiri, dan aku selalu merasa khawatir tentang dirinya yang berputar-putar di atas lapisan es dan salju dengan pergelangan kakunya yang kecil. Apakah seseorang bersedia mengajaknya naik kereta luncur di sekolah?
“Bunga lagi!” Suara seorang perawat membuatku terkejut ketika dia memasuki kamarku dengan membawa sebuah centerpiece (perhiasan di tengah-tengah meja) yang indah. Dia memberikan kartunya kepadaku saat dia mencari tempat untuk buket yang dibawanya diantara bunga poinsetia di kusen jendela.
“saya kira kamu harus memulangan Anda,” katanya menggodaku. “Habis di sini tidak ada tempat kagu untuk menaruh bunga!”
“Buat saya sih ngakk masalah,” kataku setuju.
“oh, hampir saja saya lupa ini.”
Dia mengambil lebih banyak lagi kartu dari sakunya dan meletakannya di atas nampan. Sebelum meninggalkan ruangan, dia menarik gorden berwarna hijau pucat sebagai penyekat di antara dua tempat tidur.
Saat aku membaca kartu-kartu yang berisi ucapan semoga lekas sembuh, aku mendengar, “Yep, saya suka bunga-bunga itu.”
Aku mendongak untuk melihat wanita di tempat tidur disampingku yang menarik gorden ke samping sehingga dia bisa melihat dengan lebih jelas. “Yep, saya suka bunga-bunga itu,” dia mengulanginya lagi.
Temanku satu kamar adalah seorang wanita bertubuh mungil berusia sekitar 40-an ang menderita sindrom Down. Rambutnya pendek, keritig, sudah beruban, dan matanya berwarna coklat. Pakaian pasiennya dibiarkan tergantung tanpa diikat di lehernya, dan ketika dia bergerak maju punggungnya yang terbuka kelihatan. Aku ingin sekali mengikatnya, tetapi aku tidak bisa karena masih diinfus. Dia memandangi bunga-bunga yang kuterima dengan pandangan takjub seperti kanak-kanak.
“Nama saya Bonnie,” kataku kepadanya. “Siapakah nama Anda?”
“Ginger,” jawabnya, mengarahkan pandangannya ke langit-langit dan megatupkan kedua bibirya rapat-rapat setelah mengucapkan kata itu. “Dokter akan menyembuhkan kaki saya. Saya dioperasi besok.”
Aku dan Ginger berbicara hingga waktu makan malam tiba. Dia bercerita kepadaku tnetang panti werda di mana dia tinggal dan betapa inginnya dia kembali ke sana saat pesta Natal. Dia tidak pernah menyebutkan tentang keluarga, dan aku tidak menyebutkan tentang keluarga, dan aku menanyakannya. Setiap kali dia mengingatkanku akan operasi yang akan dijalaninya yang dijadwalkan keesokan harinya.“Dokter akan menyembuhkan kaki saya,” begitu yang selalu dikatakannya.
Malam itu ada beberapa orang yang menjengukku, termaksud anak laki-lakiku Adam. Ginger bercakap-cakap penuh suka ria dengan mereka, mengatakan kepada setiap orang tentang bunga-bungaku yang indah. Tetapi yang paling sering dia selalu memandangi Adam. Dan, setelah semua orang pulang, Ginger selalu mengulangi lagi dan lagim persis seperti apa yang dia katakan tentang bunga-bungaku, ”Yep, saya suka Adam anakmu.”
Keesokan harinya Ginger meninggalkan kamar untuk menjalani operasi, dan perawat datang untuk membantuku berjalan-jalan sebentar ke ruang utama. Menyenangkan sekali rasanya sudah agak sehat dan bisa berjalan.
Tidak lama kemudian aku kembali ke kamaraku. Ketika aku berjalan memasuki pintu, perbedaan yang begitu mencolok antara dua sisi ruangan membuatku banyak memikirkannya. Ruangan Ginger begitu rapi, menunggunya kembali. Sedangkan ruanganku penuh dengan bunga, dan tumpukan kartu dengan ucapan semoga lekas sembuh mengingatkanku betapa aku dicintai oleh banyak orang
Tidak ada seorang pun yang mengirimi Ginger kartu atau bunga. Kenyataannya, tak seorang pun menelepon dan menjenguknya.
Apakah ini yang akan terjadi pada Adam suatu hari nanti? Aku tidak tahu, dan aku segera menepiskan pikiran seperti itu.
Aku tahu, aku memustuskan. Aku akan memberikan sesuatu milikku kepadanya.
Aku berjalan menuju jendela dan mengambil ornamen utama dengan lillin berwarna merah dan untaian holly (sejenis tumbuh-tumbuhan yang hijan dan runcing daunya, dan buahnya merah bergugus-gugus). Tetapi bunga ini akan tampak indah sekali di meja makan Natal kami, pikirku, ketika aku meletakkannya kembali. Bagaimana dengan bunga poinsetia? Lalu aku menyadari betapa bunga berwarna merah tua itu akan membuat cerah gapura rumah kami yang dibangun pada awal tahun 1900-an. Dan, tentu saja, aku tidak bisa memberikan mawar yang dikirimkan oleh ayah dan ibu kepadanya, karena aku tahu kami tidak akan bertemu dengan mereka Natal tahun ini, begitu pikirku.
Pembenaran itu terus saja terjadi: bunga-bunga itu mulai layu; teman ini akan tersingung; aku benar-benar akan bisa memanfaatkannya apabila sudah sampai rumah. Aku tidak bisa berpisah dari apa saja. Lalu aku kembali naik ke tempat tidur, mencoba menghilangkan rasa bersalah naik ke tempat tidur, mencoba menghilangkan rasa bersalahku dengan sebuah keputusan untuk menelepon toko hadiah rumah sakit saat mulai buka di pagi hari dan memesan bunga untuk ginger.
Ketika Ginger kembali dari operasi, petugas rumah sakit membawakannya sebuah buket bunga Natal kecil berwarna hijau dengan pita berwarna merah. Dia menggantungkannya di tembok kosong berwarna putih di atas tempat tidur Ginger. Malam itu leih banyak lagi orang yang datang mengunjungiku, dan meskipun Ginger sedang beristirahat karena baru saja di operasi, dia memberi salam kepada setiap orang dan dengan bangga menunjukkan kepada mereka buket Natal yang dimilikinya.
Setelah makan pagi keesokan harinya, perawat masuk kembali ke ruangan kami untuk memberi tahu Ginger bahwa dia boleh pulang. “Mobil dari pandti werda sedang dalam perjalanan ke sini untuk menjemput Anda,” katanya.
Aku tahu bahwa waktu tinggal di rumah sakit yang hanya sebentar itu berarti dia akan berada di panti untuk merayakan pesta Natal. Aku merasa senang untuknya, tetapi aku merasa bersalah ketika aku ingat bahwa toko hadiah rumah sakit tidak akan buka hingga dua jam lagi.
Sekali lagi aku mengedarkan pandangan melihat bunga-bungaku. Bisakah aku berpisah dari salah satu bunga-bunga ini?
Perawat membawa kursi roda ke sisi tempat tidur Ginger. Ginger mengumpulkan beberapa benda milik pribadinya dan menarik jaketnya dari gantungan yang ada dilemari.
“saya betul-betul senang berkenalan dengan Anda, Ginger,” kataku kepadanya. Aku mengucapkannya dengan tulus, tetapi aku merasa bersalah karena tidak mewujudkan maksud baikku.
Perawat membantu Ginger mengenakan jaketnya dan memapahnya ke kursi roda. Lalu dia mengambil buket kecil itu dari paku di tembok dan memberikannya kepada Ginger. Mereka menuju ke pintu untuk meninggalkan ruangan ketika tiba-tiba Ginger berkata, “Tunggu sebentar!”
Ginger turun dari kursi rodanya dan berjalan tertatih-taih ke tempat tidurku. Dia mengulurkan tangan kanannya dan dengan lembut meletakan bucket kecil itu di pangkuanku.
“Selamat Hari Natal,” katanya. “Anda Sungguh baik.” Lalu dia memelukku dengan erat.
“Terimakasih, “ sahutku lirih.
Aku tidak bisa mengatakan apa-apa lagi ketika dia kembali berjalan tertatih-taith ke kursi rodanya dan bergereak menuju ke pintu.
Dengan mata berlinang aku menatap buket kecil kini berada di tanganku. Satu-satunya hadiah untuk Ginger, pikirku. Dan dia meberikan kepadaku.
Aku memandang tempat tidurnya. Sekali lagi, ruangannya kosong dan tidak ada apa pun. Tetapi ketika aku mendengar bunyi pintu elevator menutup di belakang Ginger, Aku tahu bahwa dia memiliki banyak, jauh lebih banyak yang kumiliki.

Pelajaran yang dapat diambil adalah bagaimana kita dapat memberikan milik kita dengan penuh kasih, walaupun sesuatu yang kita berikan adalah satu-satunya barang/sesuatu yang kita punya.

By: Bonnie Shepherd



Cara Mengganti Alamat URL



Dot TK

Renaming The Internet



Buat anda yang punya blog atau ingin merubah URL menjadi Domain pribadi anda dapat menggantinya di Website " DOT. Tk " secara GRATIS


Masukan URL blog anda dan tinggal ikuti petunjuk. Ada 2 pilihan yang pertama hanya URL Fowarding dengan tidak ada persyaratan, yang kedua adalah dengan fasilitas lengkap tetapi blog anda harus dikunjungi sebanyak 25 kali dalam 90 hari.

"SELAMAT MENCOBA"

 
© Copyright 2010 Hengkychou - Presents :: Contact Person: Yahoo Messenger: zhouxianxi@yahoo.com