Bookmark and Share
Showing posts with label Love's Life. Show all posts
Showing posts with label Love's Life. Show all posts

Friday, January 15, 2010

Surat Cinta Anak Ipa Vs Ips


Anak IPA

Archimedes dan Newton tak akan mengerti Medan magnet yang berinduksi di antara kita, Einstein dan Edison tak sanggup merumuskan E=mc2 Ah tak sebanding dengan momen cintaku Pertama kali bayangmu jatuh tepat di fokus hatiku Nyata, tegak, diperbesar dengan kekuatan lensa maksimum. Bagai tetes minyak milikan jatuh di ruang hampa Cintaku lebih besar dari bilangan avogadro…Walau jarak kita bagai matahari dan Pluto saat aphelium Amplitudo gelombang hatimu berinterfensi dengan hatiku Seindah gerak harmonik sempurna tanpa gaya pemulih Bagai kopel gaya dengan kecepatan angular yang tak terbatas Energi mekanik cintaku tak terbendung oleh friksi Energi potensial cintaku tak terpengaruh oleh tetapan gaya Energi kinetik cintaku = -mv~Bahkan hukum kekekalan energi tak dapat menandingi hukum kekekalan di antara kitaLihat hukum cinta kita Momen cintaku tegak lurus dengan momen cintamu Menjadikan cinta kita sebagai titik ekuilibrium yang sempurna Dengan inersia tak terhinggaTakkan tergoyahkan impuls atau momentum gaya Inilah resultan momentum cinta kita…

Anak IPS

Dengan hormat,Hal : Penawaran Kesepakatan Saya sangat gembira memberitahukan Anda bahwa saya telah jatuh cinta kepada Anda terhitung tanggal 17April 2003. Berdasarkan rapat keluarga kami tanggal 15 Mei lalupukul 19.00 WIB, saya berketetapan hati untuk menawarkan diri sebagai kekasih Anda yang prospektif. Hubungan cinta kita akan menjalin masa percobaan minimal 3 bulan sebelum memasuki tahap permanen. Tentu saja, setelah masa percobaan usai, akan diadakan terlebih dahulu on the job training secara intensif dan berkelanjutan. Dan kemudian , setiap tiga bulan selanjutnya akan diadakan juga evaluasi performa kerja yang bisa menuju pada pemberian kenaikan status dari kekasih menjadi pasangan hidup. Biaya yang dikeluarkan untuk kerumah makan dan shooping akan dibagi 2 sama rata antara kedua belah pihak. Selanjutnya didasarkan pada performa dankinerja Anda, tidak tertutup kemungkinan bahwa sayaakan menanggung bagian yang lebih besar pengeluarantotal.Akan tetapi, saya cukup bijaksana dan mampu menilai,jumlah dan bentuk pengeluaran yang Anda keluarkannantinya.Saya dengan segala kerendahan hati meminta Anda untukmenjawab penawaran ini dalam waktu 30 hariterhitung tanggal penerimaan surat . Lewat dari tanggal tersebut, penawaran ini akan dibatalkan tanpapemberitahuan lebih lanjut, dan tentu saja saya akan beralih dan mempertimbangkan kandidat lain. Saya akan sangat berterimah kasih apabila Anda berkenan untuk meneruskan surat ini kepada adik perempuan, sepupu bahkan teman dekat anda, apabila Anda menolak penawaran ini. Demikian penawaran yang dapat saya ajukan dan sebelumnya terima kasih atas perhatiannya.


Hormat saya,

Bakal calon pasanganmu

Tuesday, December 15, 2009

Menyayangi Orang Tua Kita





Sebagai orang dewasa kita semua mungkin disibukan dengan berbagai kesibukan harian kita. Mungkin dari kita semua ada yang masih sibuk dengan masa remaja kalian, ada juga yang lagi sibuk dengan kuliah, dan ada juga yang sibuk dengan pekerjaan kita masing-masing. Rutinitas kita kadang membuat kita melupakan orang-orang yang ada didekat kita. Orang yang mungkin sudah mengorbankan banyak waktu untuk membesarkan kita. Di masa tua mereka, dengan kulit yang sudah mengerut dan tatapan mata mereka yang telah lelah, yang di inginkan mereka (orang tua) hanya lah melihat kita bahagia dan itu sudah puas di dalam hati mereka, tetapi jauh dari dalam hati mereka sebenarnya mereka ingin menuntut bukan sekedar hal itu saja. Mereka juga butuh perhatian dari kita, kasih sayang yang belum sempat kita beri karena kesibukan kita. Bahkan kita lebih mementingkan perasaan pasangan kita daripada orangtua kita. Pasangan yang baru kita kenal 6 bulan atau sudah berpacaran selama beberapa tahun. Kita berpikir mati-matian untuk membuat surprise di hari ulang tahun pasangan kita atau berusaha mencari hadiah yang disukai oleh pasangan kita. Cobalah berpikir kembali apa yang kita lakukan ketika orangtua kita ulang tahun? Mungkin beberapa dari kita melakukan sesuatu yang benar-benar menyenangkan hati orang tua kita, tapi kebanyakan dari kita hanya melakukan hal biasa di hari ulang tahun orang tua kita. Mungkin hanya sebuah ucapan ulang tahun dan sebuah kue ulang tahun di meja makan. Hal tersebut sebenarnya juga baik dilakukan tetapi makna yang didapat dari semua ini hanya lah sebuah rutinitas tahunan tanpa adanya suatu makna yang lebih.
Dibawah ini ada sebuah cerita :
Seorang pria yang cukup sukses disebuah kota besar yang cukup sibuk dengan segala aktivitas pekerjaan nya. Pria tersebut merupakan anak tunggal yang merantau ke kota besar tersebut, sedangkan ibu nya hanya tinggal sendirian karena ayah nya sudah meninggal di sebuah kota yang tidak terlalu jauh dari tempat tinggal anak nya. Selama bertahun-tahun pria tersebut hanya menyempatkan diri pulang kerumah ibu nya beberapa kali itu juga karena ada keperluan yang harus dilakukan di kota tempat ibunya tinggal. Ibu dari pria tersebut setiaphari hanya menghabiskan waktunya didalam rumah, sekali-sekali ibunya pergi ke taman untuk berjalan-jalan seorang diri. Bahkan pria tersebut sama sekali sangat jarang untuk telepon kepada ibunya untuk menanyakan kabar atau sekedar bercerita karena kesibukannya setiap hari yang selalu menghabiskan dirinya di depan komputer atau di kantor tempat dia bekerja. Sebagai anak, pria tersebut sangat bentanggung jawab untuk menghidupi ibunya. Biaya hidup ibunya memang ditanggun oleh pria tersebut, tetapi sebenarnya yang diperlukan oleh ibunya tidaklah hanya sekedar materi saja tetapi perhatian dari anaknya yang satu-satunya dia miliki. Setiap tahun ulang tahun ibunya dilewati sendiri dirumah tanpa ada satu pun yang merayakannya. Kalau adapun hanya bucket bunga yang dikirimi oleh anaknya melalui petugas penjual bunga yang mengantarkan kerumah. Sampai suatu kali disaat ulang tahun ibunya, pria tersebut kembali ke tempat penjualan bunga dan memesan bunga tersebut untuk dikirim ke alamat rumah ibunya. Ketika pria tersebut sedang didalam mobil, dia melihat ada seorang gadis kecil yang berdiri sedang nangis. Pria tersebut tersentuh hatinya untuk menanyakan apa yang terjadi, gadis kecil tersebut hanya berkata “Kak, saya ingin membeli bunga untuk ibu saya yang sedang ulang tahun,” pria tersebut lalu mengantarkan kan gadis kecil tersebut untuk membeli bunga. Lalu gadis tersebut mengundangnya untuk menemani dia memberikan bunga tersebut kepada ibu si gadis kecil. Gadis kecil tersebut menarik tanggan pria itu dan membuka pagar dan mengendap-ngendap dengan tangan yang membawa bunga di sembunyikan di belakang badannya dan mengucapkan “Ibu, liat saya bawa apa? Ini ada bunga kesukaan ibu.. Selamat Ulang Tahun Ibu, Semoga Ibu selalu bahagia. Semoga Tuhan selalu menjaga Ibu disurga. Selamat Ulang Tahun ya..” Ucap gadis kecil itu di depan Nisan Ibunya yang sudah meninggal. Dengan muka polos dan senyum manis nya gadis tersebut mengucapkan terimakasih kepada pria itu. Dan pria itu tersadar bahwa Ibunya masih di beri kesempatan untuk hidup tetapi disaat ulang tahun nya dia tidak hadir dalam untuk ibunya.. Dengan air mata nya yang sudah membanjiri matanya pria tersebut langsung lari dan menyetir mobil nya ke arah rumah ibunya. Dan meminta maaf atas ulang tahun yang dilewati oleh ibunya selama bertahun-tahun hanya sendiri.

Berikut cerita diatas, semoga dapat memberikan manfaat untuk semuanya.

Lakukanlah segala sesuatu sebelum semua terlambat.

Saturday, December 12, 2009

Seperti yang Kumiliki


"Apa yang kamu simpan untuk dirimu sendiri akan lenyap, apa yang kamu berikan pada orang lain akan kamu miliki selamanya"


Hari Natal tinggal dua minggu lagi, tetapi aku harus berada di rumah sakit untuk memulihkan kesehatanku setelah menjalani operasi. Natal itu merupakan Natal pertama kalinya bagi keluargaku di Minnesota, dan aku ingin menjadikannya penuh kenangan, tetapi tidak dengan cara seperti ini.

Selama berminggu-minggu aku tidak menghiraukan rasa sakit di bagian tubuhku, tetapi ketika rasa sakit itu semakin parah, aku datang ke dokter. “Batu empedu”, kata dokter, sambil memandang sinar X. “Cukup untuk membuat sebuah kalung. Anda perlu segera dioperasi.”
Meskipun aku protes bahwa saat itu merupakan waktu yang sama sekali tidak menyenangkan untuk berada di rumah sakit, rasa sakit yang menggerogoti diriku meyakinkan aku untuk menjalani operasi, sesuai dengan anjuran dokter.
Suamiku, Buster, meyakinkan aku bahwa dia bisa menangani semuanya dirumah, dan aku menelepon beberapa sabahat untuk minta bantuan agar anak-anakku bisa menumoang mereka. Banyak hal lainnya, kue Natal, belanja, dan dengan dekorasi harus menanti.
Aku berusaha keras untuk membuka kedua mataku setelah tidur selama dua hari di rumah sakit setelah menjalani operasi. Ketika aku menjadi lebih sadar, aku melihat sekelilingku yang tampak seperti sebuah toko bunga Natal. Bunga poinsetia merah dan banyak buket lainnya memenuhi kusen jendela. Setumpuk kartu menunggu untuk dibuka. Di sebuah meha di sisi tempat tidurku berdiri sebuah pohon kecil yang diberi ornamen yang telah dibuat oleh anak-anakku. Rak di atas bak cuci penuh dengan mawar merah dari kedua orangtuaku di indiana dan sebuah kayu Natal dengan banyak lilin dari para tetangga. Aku merasa begitu gembira oleh semua cinta dan perhatian yang sangat besar itu.
Mungkin berada di rumah sakit pada hari-hari Natal bukanlah suatu hal yang sama sekali buruk, pikirku. Suamiku berkata bahwa teman-teman telah membawa makanan ke keluarga kami dan menawarkan untuk mengurus kempat anak kami.
Di luar jendela, salju yang tebal mengubah kota kecil kami menjadi sebuah negeri ajaib musim dingin. Anak-anak pasti menyukai suasana seperti ini, demikian pikirku ketika aku membayangkan mereka mengenakan pakaian tebal penahan salju untuk membuat manusia salju di halaman belakang, atau bermain ski dilapangan es terbuka di sekolah Garfield.
Apakah mereka juga akan melibatkan Adam, anak kami yang cacat? Aku sangsi. Pada usia lima tahun, dia baru bisa berjalan sendiri, dan aku selalu merasa khawatir tentang dirinya yang berputar-putar di atas lapisan es dan salju dengan pergelangan kakunya yang kecil. Apakah seseorang bersedia mengajaknya naik kereta luncur di sekolah?
“Bunga lagi!” Suara seorang perawat membuatku terkejut ketika dia memasuki kamarku dengan membawa sebuah centerpiece (perhiasan di tengah-tengah meja) yang indah. Dia memberikan kartunya kepadaku saat dia mencari tempat untuk buket yang dibawanya diantara bunga poinsetia di kusen jendela.
“saya kira kamu harus memulangan Anda,” katanya menggodaku. “Habis di sini tidak ada tempat kagu untuk menaruh bunga!”
“Buat saya sih ngakk masalah,” kataku setuju.
“oh, hampir saja saya lupa ini.”
Dia mengambil lebih banyak lagi kartu dari sakunya dan meletakannya di atas nampan. Sebelum meninggalkan ruangan, dia menarik gorden berwarna hijau pucat sebagai penyekat di antara dua tempat tidur.
Saat aku membaca kartu-kartu yang berisi ucapan semoga lekas sembuh, aku mendengar, “Yep, saya suka bunga-bunga itu.”
Aku mendongak untuk melihat wanita di tempat tidur disampingku yang menarik gorden ke samping sehingga dia bisa melihat dengan lebih jelas. “Yep, saya suka bunga-bunga itu,” dia mengulanginya lagi.
Temanku satu kamar adalah seorang wanita bertubuh mungil berusia sekitar 40-an ang menderita sindrom Down. Rambutnya pendek, keritig, sudah beruban, dan matanya berwarna coklat. Pakaian pasiennya dibiarkan tergantung tanpa diikat di lehernya, dan ketika dia bergerak maju punggungnya yang terbuka kelihatan. Aku ingin sekali mengikatnya, tetapi aku tidak bisa karena masih diinfus. Dia memandangi bunga-bunga yang kuterima dengan pandangan takjub seperti kanak-kanak.
“Nama saya Bonnie,” kataku kepadanya. “Siapakah nama Anda?”
“Ginger,” jawabnya, mengarahkan pandangannya ke langit-langit dan megatupkan kedua bibirya rapat-rapat setelah mengucapkan kata itu. “Dokter akan menyembuhkan kaki saya. Saya dioperasi besok.”
Aku dan Ginger berbicara hingga waktu makan malam tiba. Dia bercerita kepadaku tnetang panti werda di mana dia tinggal dan betapa inginnya dia kembali ke sana saat pesta Natal. Dia tidak pernah menyebutkan tentang keluarga, dan aku tidak menyebutkan tentang keluarga, dan aku menanyakannya. Setiap kali dia mengingatkanku akan operasi yang akan dijalaninya yang dijadwalkan keesokan harinya.“Dokter akan menyembuhkan kaki saya,” begitu yang selalu dikatakannya.
Malam itu ada beberapa orang yang menjengukku, termaksud anak laki-lakiku Adam. Ginger bercakap-cakap penuh suka ria dengan mereka, mengatakan kepada setiap orang tentang bunga-bungaku yang indah. Tetapi yang paling sering dia selalu memandangi Adam. Dan, setelah semua orang pulang, Ginger selalu mengulangi lagi dan lagim persis seperti apa yang dia katakan tentang bunga-bungaku, ”Yep, saya suka Adam anakmu.”
Keesokan harinya Ginger meninggalkan kamar untuk menjalani operasi, dan perawat datang untuk membantuku berjalan-jalan sebentar ke ruang utama. Menyenangkan sekali rasanya sudah agak sehat dan bisa berjalan.
Tidak lama kemudian aku kembali ke kamaraku. Ketika aku berjalan memasuki pintu, perbedaan yang begitu mencolok antara dua sisi ruangan membuatku banyak memikirkannya. Ruangan Ginger begitu rapi, menunggunya kembali. Sedangkan ruanganku penuh dengan bunga, dan tumpukan kartu dengan ucapan semoga lekas sembuh mengingatkanku betapa aku dicintai oleh banyak orang
Tidak ada seorang pun yang mengirimi Ginger kartu atau bunga. Kenyataannya, tak seorang pun menelepon dan menjenguknya.
Apakah ini yang akan terjadi pada Adam suatu hari nanti? Aku tidak tahu, dan aku segera menepiskan pikiran seperti itu.
Aku tahu, aku memustuskan. Aku akan memberikan sesuatu milikku kepadanya.
Aku berjalan menuju jendela dan mengambil ornamen utama dengan lillin berwarna merah dan untaian holly (sejenis tumbuh-tumbuhan yang hijan dan runcing daunya, dan buahnya merah bergugus-gugus). Tetapi bunga ini akan tampak indah sekali di meja makan Natal kami, pikirku, ketika aku meletakkannya kembali. Bagaimana dengan bunga poinsetia? Lalu aku menyadari betapa bunga berwarna merah tua itu akan membuat cerah gapura rumah kami yang dibangun pada awal tahun 1900-an. Dan, tentu saja, aku tidak bisa memberikan mawar yang dikirimkan oleh ayah dan ibu kepadanya, karena aku tahu kami tidak akan bertemu dengan mereka Natal tahun ini, begitu pikirku.
Pembenaran itu terus saja terjadi: bunga-bunga itu mulai layu; teman ini akan tersingung; aku benar-benar akan bisa memanfaatkannya apabila sudah sampai rumah. Aku tidak bisa berpisah dari apa saja. Lalu aku kembali naik ke tempat tidur, mencoba menghilangkan rasa bersalah naik ke tempat tidur, mencoba menghilangkan rasa bersalahku dengan sebuah keputusan untuk menelepon toko hadiah rumah sakit saat mulai buka di pagi hari dan memesan bunga untuk ginger.
Ketika Ginger kembali dari operasi, petugas rumah sakit membawakannya sebuah buket bunga Natal kecil berwarna hijau dengan pita berwarna merah. Dia menggantungkannya di tembok kosong berwarna putih di atas tempat tidur Ginger. Malam itu leih banyak lagi orang yang datang mengunjungiku, dan meskipun Ginger sedang beristirahat karena baru saja di operasi, dia memberi salam kepada setiap orang dan dengan bangga menunjukkan kepada mereka buket Natal yang dimilikinya.
Setelah makan pagi keesokan harinya, perawat masuk kembali ke ruangan kami untuk memberi tahu Ginger bahwa dia boleh pulang. “Mobil dari pandti werda sedang dalam perjalanan ke sini untuk menjemput Anda,” katanya.
Aku tahu bahwa waktu tinggal di rumah sakit yang hanya sebentar itu berarti dia akan berada di panti untuk merayakan pesta Natal. Aku merasa senang untuknya, tetapi aku merasa bersalah ketika aku ingat bahwa toko hadiah rumah sakit tidak akan buka hingga dua jam lagi.
Sekali lagi aku mengedarkan pandangan melihat bunga-bungaku. Bisakah aku berpisah dari salah satu bunga-bunga ini?
Perawat membawa kursi roda ke sisi tempat tidur Ginger. Ginger mengumpulkan beberapa benda milik pribadinya dan menarik jaketnya dari gantungan yang ada dilemari.
“saya betul-betul senang berkenalan dengan Anda, Ginger,” kataku kepadanya. Aku mengucapkannya dengan tulus, tetapi aku merasa bersalah karena tidak mewujudkan maksud baikku.
Perawat membantu Ginger mengenakan jaketnya dan memapahnya ke kursi roda. Lalu dia mengambil buket kecil itu dari paku di tembok dan memberikannya kepada Ginger. Mereka menuju ke pintu untuk meninggalkan ruangan ketika tiba-tiba Ginger berkata, “Tunggu sebentar!”
Ginger turun dari kursi rodanya dan berjalan tertatih-taih ke tempat tidurku. Dia mengulurkan tangan kanannya dan dengan lembut meletakan bucket kecil itu di pangkuanku.
“Selamat Hari Natal,” katanya. “Anda Sungguh baik.” Lalu dia memelukku dengan erat.
“Terimakasih, “ sahutku lirih.
Aku tidak bisa mengatakan apa-apa lagi ketika dia kembali berjalan tertatih-taith ke kursi rodanya dan bergereak menuju ke pintu.
Dengan mata berlinang aku menatap buket kecil kini berada di tanganku. Satu-satunya hadiah untuk Ginger, pikirku. Dan dia meberikan kepadaku.
Aku memandang tempat tidurnya. Sekali lagi, ruangannya kosong dan tidak ada apa pun. Tetapi ketika aku mendengar bunyi pintu elevator menutup di belakang Ginger, Aku tahu bahwa dia memiliki banyak, jauh lebih banyak yang kumiliki.

Pelajaran yang dapat diambil adalah bagaimana kita dapat memberikan milik kita dengan penuh kasih, walaupun sesuatu yang kita berikan adalah satu-satunya barang/sesuatu yang kita punya.

By: Bonnie Shepherd



Katakan "I LOVE YOU" Sekarang Juga!!!



Seringkali kita susah untuk mengungkapkan Perasaan Hati kita. Sulit untuk menyatakan apa yang sebenarnya yang ada didalam hati kita kepada pasangan, atau orang yang kita cintai.

Dibawah ini ada sebuah cerita yang mungkin dapat membuka hati kita untuk lebih berani menyatkan apa yang seharusnya kita katakan.


(1 SMA)
Saat aku duduk di kelas bahasa inggris, menatap gadis disampingku. Dia adalah sahabatku. Aku menatap rambut panjang sehalus sutra-nya, dan berharap dia adalah milikku. Tapi dia tidak menyadarinya, dan aku tahu itu. Setelah kelas selesai, dia berjalan ke arahku dan meminta catatan yang ketinggalan kemarin, dan kuberikan padanya. Dia berkata "terima kasih" dan memberi ciuman dipipiku. Aku ingin memberitahunya, aku ingin dia tahu jika aku tak ingin menjadi sekedar teman, aku mencintainya tapi aku terlalu malu, dan aku tak tahu kenapa.

(2 SMA)
Telepon berdering. Di ujung sana, ada dia. Dia menangis, dan berkata terus-terusan bagaimana cintanya telah mematahkan hatinya. Dia memintaku untuk datang karena dia tak ingin sendirian, dan aku pun datang. Aku duduk di sofa di sebelahnya, menatap matanya yang lembut, berharap dia adalah milikku. Setelah 2 jam berlalu, sebuah film oleh Drew Barrymore, dan tiga kantong kripik, dia memutuskan untuk tidur. Dia melihatku, berkata "terima kasih" dan mencium pipiku. Aku ingin memberitahunya, aku ingin dia tahu jika aku tak ingin menjadi sekedar teman, aku mencintainya tapi aku terlalu malu, dan aku tak tahu kenapa.

(3 SMA)

Sehari sebelum pesta kelulusan dia berjalan ke lokerku. "Pasanganku sakit" dia bilang. Dia tidak bisa melakukannya dengan baik, aku tak punya pasangan, dan ketika 7th grade, kami membuat janji jika tak ada diantar kita yang punya pasangan, maka kita akan datang berdua, sebagai teman baik. Dan itu yang kami lakukan. Malam kelulusan, setelah semuanya selesai, aku berdiri di depan tangga rumahnya. Dia tersenyum padaku, dan memandangku dengan matanya yang sebening kristal. Aku ingingin dia menjadi milikku, tapi dia tidak berpikir sepertiku, dan aku tahu itu. Lalu dia berkata "Ini salah satu momen terindah buatku, terima kasih" dan menciumku di pipi. Aku ingin memberitahunya, aku ingin dia tahu jika aku tak ingin menjadi sekedar teman, aku mencintainya tapi aku terlalu malu, dan aku tak tahu kenapa.Hari WisudaSehari berlalu, lalu seminggu, lalu sebulan. Sebelum aku berkedip, ini hari kami wisuda. Aku melihat tubuhnya yang sempurna melayang seperti malaikat di panggung untuk menerima diploma. Aku ingin dia menjadi milikku, tapi dia tidak menyadari seperti itu, dan aku tahu itu.Sebelum semua orang pulang, dia mendatangiku dengan pakaian dan topinya, menangis ketika aku memeluknya. Lalu dia mengangkat kepala dari pundakku, dan berkata "kau sahabat terbaikki, terima kasih" dan mencium pipiku. Aku ingin memberitahunya, aku ingin dia tahu jika aku tak ingin menjadi sekedar teman, aku mencintainya tapi aku terlalu malu, dan aku tak tahu kenapa.Beberapa tahun kemudianSekarang aku duduk di bangku gereja. Gadis itu menikah. Aku melihatnya mengatakan "ya, saya bersedia" dan memasuki kehidupan barunya, menikahi seorang pria. Aku ingin dia menjadi milikku, tapi dia tidak melihatku seperti itu, dan aku tahu itu. Tapi sebelum pergi, dia mendatangiku dan berkata "kau datang!". Dia berkata "terima kasih" dan mencium pipiku. Aku ingin memberitahunya, aku ingin dia tahu jika aku tak ingin menjadi sekedar teman, aku mencintainya tapi aku terlalu malu, dan aku tak tahu kenapa.


Pemakaman
Bertahun-tahun berlalu, aku menatap peti mati yang berisi wanita yang menjadi "sahabat terbaikku". Dalam acara itu, mereka membaca buku harian yang ditulisnya ketika dia masih SMA. Seperti inilah bacaannnya:"Aku memandangnya, berharap dia adalah milikku, tapi dia tidak menyadariku seperti itu, dan aku tahu itu. Aku ingin memberitahunya, aku ingin dia tahu jika aku tak ingin menjadi sekedar teman, aku mencintainya tapi aku terlalu malu, dan aku tak tahu kenapa. Kuharap dia akan berkata jika dia mencintaiku""Kuharap juga begitu" aku berkata pada diriku sendiri, airmataku jatuh menetes...

Ending yang sedih?? Iya, sebuah penyesalan. Belajarlah dari cerita diatas.

 
© Copyright 2010 Hengkychou - Presents :: Contact Person: Yahoo Messenger: zhouxianxi@yahoo.com